06:00 pm, smallthingisbigthink
1 note
 Comments
text
Wanita dan Rider

Jangan salah sangka. Judul tulisan ini memang tak lazim. Dan bukan untuk kelaziman pula saya menulisnya. Rider yang dimaksud bukanlah merek celana dalam pria. Bukan pula sebutan untuk kesatria bertopeng pembasmi kejahatan kreasi penghayal dari negeri matahari terbit. Simpelnya, rider hanyalah sebutan bagi mereka para pengendara motor.

Anda rider? Saya juga.

Tak perlu malu dengan kendaraan anda, yang penting kita sampai ke tujuan selamat sentosa.

Malu dengan kendaraan. Pernyataan ini terbesit dalam pikiran, ketika saya bersama kuda besi kesayangan memasuki sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Seketika saja pikiran ini jadi bertanya-tanya tentang pantas atau tidaknya kami, para rider, mengajak gadis kaya nan elit untuk berkencan menggunakan kuda besi.

kalau doi berdua yang boncengin, semua wanita pasti ngantri

Celetukan nakal, “Wah kalau mau sama dia minimal bawa mobil deh” umum terdengar di antara kami para rider yang kere mengkere. Tak usah malu, akui saja kalau kalimat itu pernah terlontar dari mulut anda.

Saya pun mau tak mau harus mengaku dosa. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali komentar nakal dan miring itu terlontar dari bibir ini. Minta ampun Gusti.

Perjalanan singkat ke pusat perbelanjaan itu memberikan saya sedikit waktu untuk merefleksikan pertanyaan itu. Paling tidak saya mengerti mengapa pararider senang mengeluarkan komentar tersebut.

Ketidakmampuan. Kata sakti, menyakitkan hati.
Tapi itulah fakta yang terjadi di lapangan. Apa yang ada pada seorang ridermemang tak lebih dari sebuah motor. Untung kalau baru, buntung kalau uzur. Dan ketidakmampuan untuk memiliki yang lebih, nyatanya bisa memicu timbulnya ribuan pikiran dan persepsi negatif terhadap sang wanita pujaan. Padahal kalau mau diusut belum tentu sang wanita berpikir demikian.

Apa yang lebih buruk dari rasa iri?
Rasa iri memiliki tenaga untuk meruntuhkan dunia. Buktinya ada pada sinetron Indonesia. Tiap untaian episodenya menampilkan antagonis dengan sifat iri yang menggebu-gebu. Untuk para rider rasa iri ini boleh jadi diungkapkan dalam celotehan miring seperti tadi.

Tak adil rasanya menyalahkan satu pihak saja. Walau saya tak menampik fakta bahwa ada beberapa wanita yang melihat kaum adam dari dompet dan tunggangannya, tapi ada juga yang berhati mulia dan mau diajak menunggang kuda besi tua. Jadi rasanya tak perlu lagi menyalahkan atau memojokkan mereka jadi kaum elitis.

Untuk para rider sejawat, mari kita ubah pola pikir kita.
Tak semua wanita itu sama, yang elit berhati mulia juga ada.
Yang mau menerima kita dengan motor bututnya pasti ada.
Tapi yang paling penting, kerja keras agar tidak itu-itu saja yang dibawa.

Akhir kata, saya doakan kalian semua naik pangkat dari rider jadi driver. :)


09:46 pm, smallthingisbigthink
 Comments
text
Penikmat Pertandingan

23 oktober 2011. Pertandingan antara Manchester United (MU) si Setan Merah melawan birunya langit Manchester City (MC). Pertandingan ajang gengsi. Sang pemenang turnamen tahun lalu, MU bernafsu untuk mengambil kembali posisi nomor 1 dari tangan MC. Maklum saja, berada di satu kota tak membuat keduanya rukun. Masing-masing ingin unjuk gigi untuk menunjukkan siapa penguasa kota sebenarnya.

Pertandingan ini sebetulnya tak ada hubungannya dengan saya. Baik MU dan MC bukanlah tim yang saya dukung. Kemenangan salah satu di antara mereka sebetulnya tak akan berpengaruh pada performa tim dukungan saya, Chelsea. Apalagi ini masih awal musim, tak perlu ambil pusing sebetulnya.

Jadi saya mencoba untuk duduk senyaman mungkin dan berusaha menikmati pertandingan ini. Semoga yang terbaik, atau yang paling beruntung menang…

Tapi betulkah pertandingan ini tak ada hubungannya dengan saya?

Dunia itu sempit. Saya setuju. Saking sempitnya, hubungan antar manusia daapt tergambar dalam sebuah jaringan yang sangat simpel. Satu terhubung dengan lainnya, dan yang lain itu, terhubung dengan lainnya pula. Tak ada aturan khusus, hanya terhubung. Itu saja!

Sedemikian simpelnya hubungan itu, hingga bisa membuat apa yang seharusnya tak berpengaruh menjadi berpengaruh. Apa yang tak penting menjadi penting. Apa yang tak ada menjadi ada.

Ambil saja kasus kecelakaan. Kecelakaan yang terjadi kepada orang yang tak kita kenal, nyatanya bisa memberikan pengaruh besar pada diri kita. Kecelakaan pada mobil tak dikenal di jalan tol misalnya, bisa mengakibatkan kemacetan panjang, yang ujungnya berakibat pada keterlambatan. Bisa-bisa hilang kesempatan seumur hidup, hanya gara-gara satu orang. Istilahnya, satu celaka semua ikutan kena!

Setelah dipikir, pertandingan yang sebetulnya tak ada hubungan ini, bisa berpengaruh besar buat saya. Paling tidak ada 4 teman yang menggilai MU, dan siap mengeluarkan sumpah serapah mereka di twitter kalau-kalau MU kalah. Sebaliknya kalau MU menang kicauan kemenangan dan kesombongan mereka bisa bikin saya panas hati. Rasanya seperti mau menggigit buah simalakama saja.

Kicauan sumpah serapah di twitter jelas bisa mempengaruhi hubungan dan mood saya dengan teman. Peribahasa, gara-gara kicauan di twitter, rusak pertemanan tahunan bisa saja terjadi. Kalau sampai terjadi, cuma air mata dan traktiran di Central Park bisa menanggulangi. Bukan solusi enak, mengingat dompet sedang cekak menunggu aliran dana awal bulan.

Rasa-rasanya kita perlu bijak jadi penikmat pertandingan. Tutup twitter, sumpal kuping, ambil teh, dan nikmati saja pertandingan tanpa harus menyapa teman anda. Jangan mau rugi pokoknya!


03:41 pm, smallthingisbigthink
 Comments
text
Belajar Membaca dan Somplaknya Pintu

Bagaimana cara anda membaca?
Pertanyaan bodoh ini seharusnya tidak perlu dijawab kalau memang tidak penting. Namun fakta menunjukkan bahwa manusia masih sering kedapatan salah membaca. Salah membaca karena belum lancar membaca atau salah mengerti tulisan yang dibaca.

Membaca adalah salah satu proses komunikasi. Proses ini tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui sebuah medium yaitu tulisan. Karena tidak terjadi secara langsung, kesalahan atau error yang terjadi ketika membaca juga tidak bisa langsung dikoreksi. Alhasil sang pembaca bisa kikuk kalau-kalau sang penulis menulis pesan dengan tulisan yang tidak terbaca atau pesannya tidak bisa dimengerti.

Kalau tulisan tidak terbaca, solusinya mudah. Sang penulis tinggal berlatih keras untuk memperbaiki tulisannya. Apalagi dengan kecanggihan zaman, rasanya tulisan tangan juga semakin tidak dibutuhkan. Dengan keyboard, anda tidak perlu lagi memperlihatkan tulisan tangan yang buruk. Cukup pencet sana pencet sini, maka huruf tebal, miring, angka dan berbagai macam simbol siap dibaca tanpa merusak mata.

Tapi komunikasi melalui tulisan bukan hanya soal teknis saja. Susunan kata, frasa, dan kalimat harus tersusun rapi dan jelas. Susunan kata, frasa, dan kalimat yang baik akan memudahkan perpindahan ide dari sang penulis kepada si pembaca. Yang ujung-ujungnya agar si pembaca mengerti, dan kalau-kalau bisa terbujuk untuk melakukan apa yang diinginkan sang penulis.

Tidak hanya kalimat yang punya ide. Kata dan frasa juga punya ide, walau harus berdiri sendiri tanpa ada yang menemani. Memang dalam perkembangannya, manusia yang kodratnya curious atau dalam bahasa prokemnya ‘kepo’ itu menambah-nambahkan keterangan pada kata tunggal agar lebih mudah dimengerti. Misalnya saja kata apel ditambah kata malang agar jadi apel malang, yang berarti apel dari malang, dan bukan apel yang lagi apes atau sial.

Jadi jelas sudah kalau kasta dari kata dan kalimat tidak jauh berbeda. Dua-duanya memiliki ide dan arti. Hanya saja yang satunya hemat tempat, sedangkan yang lainnya boros tempat. Semuanya suka-suka hati si penulis mau seperti apa.

Kalau si penulis sudah memenuhi syarat-syarat untuk menulis, bagaimana halnya dengan si pembaca? Pembaca ternyata juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu.

Yang pertama, haruslah dipastikan bahwa sang pembaca tidak buta huruf. Dan yang kedua harus dipastikan bahwa sang pembaca memiliki kecerdasan yang setara atau melebihi bahan bacaan yang ditulis oleh sang penulis. Keduanya sama pentingnya. Kalau sang pembaca buta huruf, maka kata atau kalimat yang notabene terdiri dari huruf-huruf itu tidak akan dimengerti. Jangankan dimengerti, dilafalkan saja tidak mungkin.

Kecerdasan yang setara atau melebihi bahan bacaan yang ditulis oleh sang penulis perlu agar pikiran atau ide dari sang penulis dan sang pembaca bisa nyambung. Ibarat sebuah jembatan harus menyambungkan dua landasan yang sejajar. Kalau salah satu landasan tidak sejajar, maka jembatan itu merepotkan sang kontraktor dan sang pemakai nantinya.

Tetapi sebaik-baiknya sang pembaca dan penulis, kekeliruan kerap saja terjadi. Level kelirunya juga sudah bukan pada hal membaca dan menulis saja, melainkan keliru mengartikan dan bahkan melakukan pesan dari tulisan. Parahnya, mereka yang suka keliru-keliru itu punya tingkat pendidikan yang mumpuni padahal. Ditambah lagi, kekeliruan justru terjadi pada tulisan-tulisan sederhana seperti kata atau frasa yang mudah dicerna.

Tarik dan Dorong

Pintu, sebuah benda yang akan menghubungkan anda dari sebuah ruangan ke ruangan berikutnya, atau sebuah benda yang digunakan untuk menutup atau membuka sebuah celah dalam ruangan. Dari sekian banyak raga pintu, satu yang lazim digunakan adalah pintu tarik dan dorong

Pintu tarik dan dorong adalah pintu yang prosedur penggunaannya adalah ditarik dan didorong. Prosedur mudah yang tidak membutuhkan banyak tenaga, kecuali bagi beberapa orang seperti anak kecil atau orang dengan kebutuhan khusus. Bahkan untuk mempermudah prosedur, sang produsen dengan berbaik hati menambahkan stiker bertulisakan ‘tarik’ dan ‘dorong’ di masing-masing bilah pintu.

Namun entah mengapa prosedur tarik dan dorong yang mudah, eksekusinya justru keliru. Perhatikanlah seluruh pintu tarik dan dorong yang anda temui. Mungkin di pusat perbelanjaan, atau mungkin di rumah anda sendiri. Seringkali pintu yang harusnya ditarik, somplak ke belakang karena terlalu banyak didorong. Sedangkan pintu yang seharusnya didorong, somplak ke depan karena terlalu banyak ditarik.

Sungguh menggelikan, manusia begitu mudah membaca, tetapi suka keliru dalam melakukan ide dari tulisan. Mungkin tiada maksud mereka dan saya yang notabene adalah manusia untuk keliru, tetapi pintu yang tadinya baik-baik saja sekarang sudah menjadi somplak, seperti nasi yang sudah menjadi bubur.

Cuek - Tak Mau Repot

Somplaknya pintu tarik dan dorong yang ditemui bisa saja didalangi oleh manusia. Tapi siapa yang mendalangi manusia itu, kalau bukan sifat-sifat manusia itu sendiri.

Bolehlah kita berasumsi kalau manusia salah baca akibat faktor-faktor teknis seperti salah cetak atau salah ketik. Namun kalau yang terjadi justru sebaliknya, maka sifat manusia boleh jadi kambing hitam atas somplaknya pintu-pintu tark-dorong yang ada di dunia.

Mungkin ada dua kambing hitam sifat-sifat manusia yang patut diwaspadai agar eksistensi pintu tarik-dorong dapat diselamatkan.

Kambing hitam pertama yang patut diwaspadai adalah cuek. Manusia terbukti cukup cuek dengan prosedur-prosedur mudah, yang ujungnya justru merugikan pihak-pihak lain atau merusak. Semakin pintar manusia semakin kompleks pikirannya. Semakin tinggi derajat manusia semakin tinggi harga dirinya. Dan makin tinggi keduanya, maka semakin cueklah mereka terhadap perkara-perkara kecil seperti melakukan ‘tarik-dorong’ pintu sesuai prosedurnya.

Kambing hitam yang pertama ternyata melahirkan kambing hitam ke dua. Cuek akan melahirkan sifat tak mau repot. Semakin kita terbiasa untuk cuek, maka semakin tumbuh besarlah sifat tak mau repot kita. Tapi bagaimana mau repot dengan pekerjaan besar kalau pekerjaan kecil saja kita tak mau repot?

Sebelum kedua kambing hitam menyebabkan pintu-pintu tarik-dorong di sekitar anda somplak semua, ada baiknya manusia mulai membasminya. Jangan sampai bukan hanya pintu yang somplak, tapi pikiran dan hasil karya manusia lainnya juga ikut-ikutan somplak karena tidak mau membaca dengan benar.


01:17 pm, smallthingisbigthink
 Comments
text
BIG & small

Dalam dunia ini ada begitu banyak jenis ukuran. Ukuran jarak misalnya, dinyatakan dalam beberapa unit seperti, panjang, lebar, tinggi, luas, keliling, dan sebagainya. Lain lagi dengan ukuran waktu yang dinyatakan dalam unit seperti, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Dan ada lebih banyak lagi jenis dan ragamnya ukuran di dalam dunia ini.
Penting, berguna, dan tak terpisahkan dari dunia.

Selama hidupnya di dunia, manusia sebagai penghuni, juga tidak dapat dipisahkan dari ukuran. Ukuran melekat dan bahkan menjadi sebuah atribut penting bagi diri manusia.
Contoh sederhana, seseorang yang berusia 30 tahun dengan tinggi 190 cm, akan disebut si jangkung, sedangkan seseorang yang berusia 30 tahun dengan tinggi 150 cm, akan disebut si pendek.

Ukuran membantu manusia dalam mengkategorikan sesamanya ke dalam kategori-kategori tertentu. Dan pengkategorian nyatanya memang memudahkan manusia dalam mengingat sesamanya. Layaknya sebuah buku telepon yang memudahkan seseorang mencari alamat teman atau kerabatnya.

Begitu pentingnya bagi hidup manusia sampai-sampai semua hal baik kasat mata maupun tak kasat mata juga ditentukan besar ukurannya. Ukuran tak kasat mata seperti IQ, EQ, dan SQ telah menjadi perhatian besar, khususnya dalam bidang ilmu psikologi dan humaniora. Para peneliti telah membuktikan bahwa segala sesuatu tampaknya dapat diukur!

Namun ukuran tak kasat mata tidak hanya terbatas Q atau Quotient saja. Semakin berkembang manusia dan semakin kompleks problematikanya, ukuran juga berkembang sedemikian rupa hingga memasuki ranah tak kasat mata yang begitu abstrak. Jika dahulu ukuran berat dan besar digunakan untuk menyatakan bobot dan ukuran badan seseorang atau benda, maka pada zaman ini ukuran berat juga bisa dipakai untuk menyatakan bobot masalah.

BIG & small

Mungkin anda sendiri seringkali menjumpai atau bahkan mengalami percakapan dengan seseorang yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa permasalahan yang sedang dihadapi begitu berat. Atau seringlah didapati bahwa media-media seperti koran atau majalah menggambarkan bahwa persoalan atau masalah sosial, politik, atau ekonomi negara ini begitu berat. Memang ukuran unitnya tidak jelas. Tidak seperti bobot massa seseorang yang dapat dinyatakan dalam unit kg atau g, persoalan tidak mempunyai unit ukuran.

Unit ukuran dalam sebuah persoalan sangatlah subjektif dan personal. Hal ini disebabkan oleh adanya campur tangan perasaan manusia dalam proses penghitungan dan pemberian kesimpulan atas bobot masalah atau problem yang terjadi. Dan sejarah menyatakan bahwa tidak ada yang dapat menandingi labilnya perasaan manusia. Seolah-olah ombak yang tidak berhenti untuk mengombang-ambingkan perahu pikiran.

Oleh karenanya pernyataan akan ukuran masalah setiap manusia akan berbeda-beda. Yang satu akan berkata bahwa persoalannya lebih berat dibandingkan yang lain, sedangkan yang lain akan berpendapat tidak demikian. Semuanya sah-sah saja sebetulnya, karena setiap dari manusia juga memiliki kekuatan yang berbeda. Bukankah itu bentuk keragaman yang hakiki?

Namun keragaman itu sendiri yang menyebabkan sebuah fenomena baru, yaitu pergeseran intesitas dari ukuran sebuah masalah. Sebuah gambaran untuk menjelaskan hal ini, dahulu kesopanan dan kesusilaan mendapatkan perhatian yang besar dalam kehidupan masyarakat. Tingkah laku tata krama serta pergaulan terjaga ketat dan dibatasi oleh norma-norma. Pelanggaran atas norma-norma tersebut dianggap sebagai pelanggaran berat. Namun sekarang, ukuran tersebut seakan-akan telah berubah. Intensitas akan ukuran tersebut telah bergeser. Pelanggaran asusila dan ketidaksopanan tidak lagi menjadi persoalan yang berat. Kadang kala hal itu menjadi hal yang lumrah atau biasa.

Dahulu berita tentang kejahatan-kejahatan asusila ataupun kejahatan dengan senjata api tidaklah sebanyak sekarang ini. Mengapa? Karena dahulu kejahatan asusila dan penggunaan senjata api merupakan persoalan dan pelanggaran berat. Saat ini kejahatan asusila tidak diekspos secara besar-besaran, bahkan hanya dianggap masalah kecil. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana banyaknya kejahatan tersebut merebak tanpa ditangani dengan penanganan yang tepat.

Tetapi hal yang sebaliknya justru terjadi. Dahulu korupsi dan penyogokan bukanlah hal besar. Seakan-akan kita diam dan membisu, mengerti, dan melakukan perbuatan itu di kantor-kantor kelurahan atau ketika melakukan pelanggaran dan tertangkap oleh polisi lalu lintas. pelanggaran. Namun sekarang, korupsi dan penyogokan bukan lagi persoalan kecil. Setiap dari mereka yang melakukan korupsi, baik besar atau kecil, dapat dikenai tindak pidana. Korupsi sudah menjadi masalah yang berat, persoalan dalam skala nasional.

Seperti halnya korupsi, standar ukuran masalah kemiskinan juga berubah. Dahulu kemiskinan adalah masalah sosial yang pelik yang dihadapi oleh pemerintah dan rakyatnya. Kita tidak banyak menjumpai daerah-daerah miskin atau fakir miskin lalu lalang dan di jalan-jalan ibukota. Hal ini karena pemerintah yang dahulu menempatkan kemiskinan di dalam ukuran yang besar atau harus diselesaikan secepatnya. Namun sekarang, kemiskinan bukanlah masalah terbesar atau terberat. Kemiskinan bagaikan diabaikan dan tidak lagi dipandang sebagai masalah yang berat.

Perubahan dan pergeseran masalah dari ukuran besar menjadi kecil, dan sebaliknya, adalah akibat dari dua hal.

Yang pertama adalah perubahan zaman. Kita tidak dapat mengelak hal ini. Zaman berubah, teknologi berkembang, dan dunia yang semakin datar adalah alasan yang paling masuk akal. Perkembangan zaman juga turut andil dalam perkembangan pola pikir dan kecerdasan manusia. Mungkin, seiring dengan berkembangnya kecerdasan manusia, manusia dapat lebih mengkategorikan masalah-masalah ke dalam ukuran-ukuran berat yang lebih tepat.

Seiring berubahnya zaman, berubah pula kebutuhan atau needs manusia. Jika dahulu ada tiga kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang, dan papan. Maka seiring dengan berubahnya zaman dan pola pikir, berubah pula kebutuhan manusia. Pada zaman ini kebutuhan primer manusia tidak lagi pangan, sandang, dan papan saja. Barang-barang mewah dan kebutuhan sekunder juga sudah masuk ke dalam ranah kebutuhan hidup manusia. Dimana ada kebutuhan, disanalah timbul masalah. Dan ukuran masalah akan berubah sesuai dengan ukuran kebutuhan.

Yang ketiga adalah keinginan masyarakat itu sendiri. Manusia adalah mahluk sosial, bahkan manusia zaman ini cenderung lebih sosial dibandingkan pada zaman sebelumnya. Manusia zaman ini cenderung untuk mengikuti perilaku sesamanya atau peer groupnya. Oleh karena itu apa yang dinyatakan sebagai sebuah masalah besar bagi sesamanya juga akan dianggap sebagai masalah besar pula oleh orang itu. Ikut-ikutan, adalah istilah yang tepat.

Dahulu besar sekarang kecil. Dahulu kecil sekarang menjadi besar. Itulah gambaran persoalan hidup manusia. Bahkan kadang manusia senang untuk membesarkan yang kecil-kecil dan mengecilkan yang besar-besar. Itulah keunikannya.

Tapi, akankah lebih baik kalau yang kecil saat ini tidak dianggap kecil, dan yang besar tidak dilebih-lebihkan?


11:20 pm, smallthingisbigthink
4 notes
 Comments
text
Love, is it BIG?

Percakapan dua lelaki di sebuah pusat perbelanjaan.

A : Lihat tuh cewe
B : Kenapa?
A : Parah!
B : Kenapa? Dia cantik kok…
A : Justru itu! Gak adil banget!
B : He?
A : Cewenya itu kayak sorga, tapi cowonya kayak neraka! Parah banget, gak adil banget!

Sambil mengerenyitkan dahi, saya berjalan menjauhi mereka. Rasa enggan untuk mendengarkan percakapan dua lelaki tadi secara tiba-tiba menyergap.

Ini bukan tulisan tentang sebuah opini atau esai formal.
Ini hanya sedikit tuangan perasaan.

Adilkah jika seorang wanita cantik mencintai seorang pria yang kurang menawan?
Adilkah jika seorang pria rupawan mencintai seorang wanita yang tidak menarik?
Adilkah jika orang tua mencintai anaknya yang memiliki keterbelakangan mental?
Adilkah jika seorang kakak mencintai adiknya yang cacat?
Adilkah jika seorang saudara mencintai saudaranya yang ternyata seorang kriminal?
Adilkah jika TUHAN mencintai dan mengasihi kita yang hina dan penuh dengan pelanggaran?

Adilkah?

Saya yakin bahwa anda sekalian akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama, yaitu adil!

Namun apa yang anda jawab dengan apa yang anda lakukan belum tentu sama. Integritas patut dipertanyakan ketika harus menghadapi orang lain dengan segala atribut penunjangnya. Atribut kekayaan, status sosial, kesempurnaan fisik, akan merubah segala pandangan kita tentang seseorang begitu saja, seperti percakapan dua lelaki di atas.

Tanpa sadar, kita seringkali mengecilkan peranan cinta, dan membesarkan peranan atribut-atribut penunjang dalam diri orang lain. Seharusnya kita sadar bahwa semua orang layak untuk dicintai.
TIDAK ADA ORANG DI DUNIA INI YANG TIDAK LAYAK UNTUK DICINTAI.

Love

Cinta adalah ciptaan Tuhan, Tuhan yang begitu besar.
Tuhan yang disebut maha pengasih, maha penyayang, maha pencinta.

Dan sekarang, apakah kita yang hanya manusia biasa, akan mengecilkan peranan ciptaannya?


02:03 pm, smallthingisbigthink
 Comments

01:26 pm, smallthingisbigthink
 Comments
text
When Life Becomes Cheaper and Patience Becomes Pricey

Kilas Daerah, Kompas, Senin, 11 April 2011

Pengendara Sepeda Motor Tewas Tertabrak KA

Medan - Rahmat Lubis (42), pengendara sepeda motor, tewas tertabrak
kereta api (KA) di perlintasan rel di Kelurahan Taualang, Kecamatan Perbaungan,
Kabupaten Deli Serdang, Minggu (9/4) malam. Adapun istri dan dua anaknya yang diboncengkannya, luka parah dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Medistra, Kabupaten Deli Serdang. “Kondisi korban luka sudah membaik dan semoga bisa segera dipulangkan,”
kata Pelaksana Tugas Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Komisaris
Besar Hery Subiansauri di Medan, Minggu (10/4). (MHF)

Bagaikan mata air yang tiada pernah kering, itulah ungkapan yang tepat bagi berita kecelakaan. Bagaimana tidak? Sumber berita akan peristiwa kecelakaan memang tidak ada habis-habisnya. Peristiwa yang tidak mengeenakkan dan pastinya tidak disukai itu dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, seakan-akan ia ‘maha hadir’.

‘Kemaha hadiran’ peristiwa ini tidak lepas dari campur tangan manusia, entah sebagai penyebab atau akibat. Campur tangan manusia memang diperlukan untuk memunculkan peristiwa ini. Sebagai penyebab misalnya, peristiwa kecelakaan kendaraan bermotor seringkali mendaulat human error sebagai penyebabnya. Terlepas dari masalah-masalah teknis lainnya, manusia memang penyebab kecelakaan baik secara langsung maupun tidak. Jika sebuah kendaraan tidak dapat berjalan dengan baik karena kerusakan komponen mesin, maka disana pula letak kesalahan manusia, yang dalam hal ini adalah sang pembuat komponen.

Demikian pula halnya ketika manusia juga menjadi komponen akibat dari peristiwa kecelakaan. Tidak sedikit peristiwa kecelakaan yang berakibat pada kerusakan harta benda dan tidak sedikit pula yang berujung pada perginya sebuah jiwa. Memang tidak selalu, tetapi standarnya akan tetap mengacu pada besarnya kerugian yang dialami oleh mereka yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Setiap berita kecelakaan yang ditulis media akan selalu menampilkan data seperti, ada tidaknya korban jiwa, jumlah korban jiwa, luka berat, luka ringan, atau tidak menimbulkan korban sama sekali. Dengan kata lain, peristiwa kecelakaan akan selalu dikaitkan dengan diri manusia dalam konteks akibat.

Jika manusia adalah penyebab sekaligus akibat dari sebuah kecelakaan, maka seharusnya mereka menjadi penguasa tunggal atasnya. Artinya manusia berhak dan mampu untuk mengadakan atau meniadakan kecelakaan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kecelakaan tetap saja terjadi dan jumlahnya justru terus meningkat.

Memang ada kuasa yang bekerja tak kasat mata di dalam dunia ini. Kuasa yang melampaui segala pikiran dan mampu mengatur segala hal yang terjadi di dunia ini. Kuasa yang seringkali kita sebut kuasa Ilahi. Produk kuasa Ilahi seringkali kita sebut sebagai takdir atau garis kehidupan. Takdir memang mempengaruhi muncul atau tidaknya kecelakaan. Tapi apabila semuanya ditentukan oleh takdir, maka tulisan ini cukuplah berhenti sampai sini saja. Tidak perlu ada perdebatan lebih panjang bukan?

Manusia sebagai pelaksana takdir, sebetulnya memiliki kesempatan dan kebebasan untuk memilih. Hal itu dapat dilihat dari berbagai kisah hidup dan pengalaman manusia. Begitu banyak kisah-kisah inspirasional dan motivasional yang menggambarkan perjuangan manusia dalam mengubah takdirnya. Beberapa dari mereka berusaha untuk mengubah kemiskinan menjadi kekayaan, kegagalan menjadi kesuksesan, dan keluputan dari peristiwa kecelakaan.

Ada banyak unsur pengubah takdir, dan sebagian besar ada di dalam diri manusia. Determinasi, kerja keras, dan ketulusan misalnya, adalah unsur-unsur yang sering muncul dalam kisah-kisah inspirasional. Lalu bagaimana dengan kecelakaan? Apa unsur yang dapat meluputkan seseorang dari kecelakaan?

Satu kata yang sudah sering kita dengar, tapi sering pula dilupakan. Mungkin kita bosan mendengarnya, sehingga tanpa sadar kita melupakannya.
Kesabaran.

Patience

Perilaku manusia akan menggambarkan zaman. Zaman Renaissance misalnya digambarkan dengan berkembangnya pendidikan melalui karya sastra atau literatur kuno, berkembangnya sudut pandang baru dalam lukisan, dan kegerakan-kegerakan budaya merajalela di seluruh eropa. Keindahan dan estetika menjadi unsur yang sangat penting bagi manusia zaman itu. Setiap orang tergila-gila dengan karya seni yang indah, dan setiap seniman berlomba-lomba untuk menghasilkan karya-karya yang memang sedap dipandang dan memiliki makna yang sungguh dalam bahkan sampai pada zaman ini.

Jika pada zaman Renaissance manusia memiliki unsur estetika dan keindahan yang begitu tinggi, maka unsur apa yang dimiliki oleh manusia zaman ini?

Satu hal yang paling menonjol pada zaman ini adalah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Perkembangan teknologi mempermudah kehidupan manusia, dan secara otomatis juga merubah cara mereka belajar. Munculnya sebuah istilah yang disebut dengan google generation membuktikan hal itu Satu sentuhan jari atau beberapa rangkaian kata di layar dapat membawa anda menuju berjuta-berjuta informasi dengan sangat cepatnya. Begitu banyak informasi, begitu padat, begitu mudah didapat, begitu cepat, begitu praktis, begitu simpel dan begitu murah.

Cara belajar dan menyerap informasi yang telah berubah menjadi sangat cepat, instant, praktis dan murah, juga turut ambil bagian dalam pembentukan unsur-unsur dalam diri manusia. Manusia zaman ini memiliki tendensi untuk mendapatkan segala sesuatunya dengan cara yang serba cepat, praktis, mudah, serta murah. Perilaku ini merupakan kebalikan kesabaran, yaitu ketergesa-gesaan.

Contoh nyata dari ketergesa-gesaan dapat kita lihat di jalan-jalan ibukota, dimana setiap orang akan menggunakan segala macam cara agar dapat sampai ke tempat tujuan mereka dengan cepat, mudah, dan murah. Pada akhirnya cepat, mudah, dan murah dipakai menjadi tameng atau alasan untuk melakukan berbagai pelanggaran di jalan. Dan hukum alam menyatakan bahwa pelanggaran dekat dengan sebuah hukuman. Hukuman memang bermacam-macam bentuknya, tetapi yang paling sering terjadi, adalah kecelakaan.

Berawal dari ketergesa-gesaan dan berakhir pada kecelakaan, itulah potret perilaku manusia zaman ini. Ketika segalanya harus dilakukan secara cepat, maka ketergesa-gesaan akan menggeser kesabaran. Salah satu unsur dalam diri manusia yang seharusnya bisa mencegah terjadinya kecelakaan.

Apakah kecepatan adalah segala-galanya? Melebihi nyawakah? Melebihi diri anda sendirikah? atau memang kesabaran bukan lagi unsur yang murah dan mudah didapatkan?


05:00 pm, smallthingisbigthink
 Comments
quote
Every sentence that came out from your mouth had a great impact for others, whether it positive or negative. There are no unnecessary sentence.
Jeffrey Satria

09:27 am, smallthingisbigthink
 Comments
quote
Fortiter in re, suaviter in modo.
Means, resolute in action, gentle in manner.
Claudio Acquaviva

02:56 pm, smallthingisbigthink
 Comments
text
Thank You, For…

Thanks!

Adalah sebuah ucapan universal yang ada di dalam setiap bahasa.
Thank you, danke, arigatou, xie xie, gracias, atau terima kasih, adalah berbagai ucapan memiliki arti syukur atas pemberian atau bantuan.

Ucapan tersebut juga merefleksikan rasa hormat dan kesopanan dalam diri seseorang ketika ia berada dalam budaya-budaya tertentu, dengan menggunakan bahasa tertentu. Mengingat bahwa setiap bahasa pasti memiliki ucapan yang serupa maka terbuktilah bahwa etika dan kesopanan dijunjung tinggi di setiap bangsa dan budaya.

Namun sebuah ucapan pada dasarnya tidak akan memiliki arti dan rasa, jika tidak diucapkan. Oleh karena itu setiap ucapan membutuhkan dua komponen utama yaitu subjek dan objek. Subjek bertugas untuk mengucapkan sebuah ucapan dan objek menerima ucapan tersebut. Tanpa keduanya sebuah ucapan hanyalah sebuah kata yang tidak berarti apa-apa.

Jangan lupa pula bahwa tempat, waktu, kondisi pada saat ucapan tersebut diucapkan juga memberikan arti dan rasa yang berbeda. Intonasi, pelafalan, besar-kecilnya suara pengucapan, juga menjadi bumbu penting agar ucapan terdengar sesuai dengan arti dan rasa sesungguhnya.

Demikian pula dengan ungkapan syukur yang dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih membutuhkan dua komponen penting yaitu subjek, sang pengucap, dan objek sang penerima ucapan. Selain itu terima kasih juga diucapkan dalam waktu-waktu tertentu, di tempat-tempat tertentu, serta dalam kondisi-kondisi tertentu, dengan cara pengucapan yang tertentu pula.

Ucapan terima kasih akan memiliki arti yang berbeda jika diucapkan di dalam latar serta kondisi yang pada dasarnya tidak umum bagi ucapan tersebut. Ucapan tersebut akan diartikan dan dirasakan secara berbeda, bahkan mungkin jauh melenceng dari arti dan rasa yang sebenarnya.

Arti dan rasa dari terima kasih akan begitu berbeda, ketika seseorang mengucapkannya kepada anda dengan intonasi suara yang lemah dan lembut dan disertai dengan senyuman, dibandingkan dengan ucapan terima kasih diucapkan dengan intonasi suara yang keras dan kasar. Begitu juga dengan latar, baik tempat dan waktu pengucapan kata itu.

Jika anda menerima sesuatu yang baik dari seseorang, sewajarnya anda mengucapkan terima kasih. Tapi bagaimana jika anda sebetulnya tidak menerima sesuatu atau bahkan sebetulnya melakukan hal yang kurang menguntungkan bagi orang tersebut? Wajarkah bila terima kasih diucapkan?

Sungguh akan terdengar sangat menggelikan, karena itulah yang terjadi saat ini. Pusat-pusat perbelanjaan besar di ibukota tampaknya mengajarkan sesuatu yang ‘unik’ bagi para petugas kebersihan ruang toilet. ‘unik’ karena mereka diajarkan untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pengunjung ruang toilet yang keluar setelah menggunakan ruangan tersebut.

Menggelikan, karena pada dasarnya para petugas kebersihan ruang toilet tidak mendapatkan tips dari pengunjung. Hal itu memang tidak diperkenankan dan diperbolehkan. Tetapi lebih aneh lagi, karena para pengunjung ruang toilet pada dasarnya masuk untuk membuat pekerjaan para petugas kebersihan semakin berat. Bagaimana tidak? Setiap pengunjung setidak-tidaknya harus membasahi dan mengotori lantai yang ada di ruang toilet. Belum lagi dengan segala ‘peninggalan’ yang tersisa di urinoir atau water closet. Bukan sesuatu yang diidamkan oleh penjaga kebersihan sekalipun, karena hal itu menambah beban pekerjaannya bukan?

Tapi faktanya itulah yang dilakukan oleh para petugas kebersihan ruang toilet di pusat-pusat perbelanjaan elite dan mewah di Jakarta.
Mengapa? Mengapa pimpinan pusat perbelanjaan mengharuskan atau mendidik para petugas kebersihan agar mengucapkan terima kasih kepada pengunjung yang justru memberikan beban tugas berlebih bagi para petugas kebersihan?

Tanpa harus menghakimi para pimpinan pusat perbelanjaan di Jakarta. Image atau citra elite dan mewah tampaknya menjadi dasar dari segala tingkah laku penyedia dan penikmat pusat perbelanjaan. Konsumen yang menjadi target dari pusat perbelanjaan dengan image, elite dan mewah sudah sewajarnya berada di tingkat sosial-ekonomi menengah ke atas. Pada tingkat sosial-ekonomi menengah ke atas, pendidikan akan tata krama dan kesopanan tentunya dijunjung tinggi. Oleh sebab itu sewajarnya para penyedia atau pemilik pusat perbelanjaan elite juga ikut mengakomodir keinginan konsumen. Consumers are kings!

Untuk mengakomodir suasana tata krama dan kesopanan yang tinggi, maka pemilik pusat perbelanjaan akan berusaha untuk memberikan serving attitude yang tepat bagi konsumen. Salah satu serving attitude yang terbaik adalah pemberian ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih yang memiliki arti syukur atas pemberian dan refleksi rasa hormat dan kesopanan akan membuat konsumen merasa betah. Perasaan betah yang timbul karena merasa dihargai dan dihormati. Karenanya pemilik perusahaan akan berusaha menampilkan pemberian ucapan terima kasih di segala lini, termasuk di ruang toilet.

Ujung-ujungnya, kita bisa melihat bahwa pangkal timbulnya sebuah ucapan bukan lagi berdasar pada latar dan kondisi pengucapan. Melainkan dari keinginan manusia semata. Keinginan para pemilik pusat perbelanjaan untuk menyediakan layanan yang terbaik dan menarik konsumen dalam jumlah besar misalnya.

Salahkah? Rasa-rasanya tidak. Namun mengingat bahwa seiring dengan pergeseran zaman, ternyata sebuah ucapan pun dapat bergeser makna dan tujuannya.