Dalam dunia ini ada begitu banyak jenis ukuran. Ukuran jarak misalnya, dinyatakan dalam beberapa unit seperti, panjang, lebar, tinggi, luas, keliling, dan sebagainya. Lain lagi dengan ukuran waktu yang dinyatakan dalam unit seperti, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Dan ada lebih banyak lagi jenis dan ragamnya ukuran di dalam dunia ini.
Penting, berguna, dan tak terpisahkan dari dunia.
Selama hidupnya di dunia, manusia sebagai penghuni, juga tidak dapat dipisahkan dari ukuran. Ukuran melekat dan bahkan menjadi sebuah atribut penting bagi diri manusia.
Contoh sederhana, seseorang yang berusia 30 tahun dengan tinggi 190 cm, akan disebut si jangkung, sedangkan seseorang yang berusia 30 tahun dengan tinggi 150 cm, akan disebut si pendek.
Ukuran membantu manusia dalam mengkategorikan sesamanya ke dalam kategori-kategori tertentu. Dan pengkategorian nyatanya memang memudahkan manusia dalam mengingat sesamanya. Layaknya sebuah buku telepon yang memudahkan seseorang mencari alamat teman atau kerabatnya.
Begitu pentingnya bagi hidup manusia sampai-sampai semua hal baik kasat mata maupun tak kasat mata juga ditentukan besar ukurannya. Ukuran tak kasat mata seperti IQ, EQ, dan SQ telah menjadi perhatian besar, khususnya dalam bidang ilmu psikologi dan humaniora. Para peneliti telah membuktikan bahwa segala sesuatu tampaknya dapat diukur!
Namun ukuran tak kasat mata tidak hanya terbatas Q atau Quotient saja. Semakin berkembang manusia dan semakin kompleks problematikanya, ukuran juga berkembang sedemikian rupa hingga memasuki ranah tak kasat mata yang begitu abstrak. Jika dahulu ukuran berat dan besar digunakan untuk menyatakan bobot dan ukuran badan seseorang atau benda, maka pada zaman ini ukuran berat juga bisa dipakai untuk menyatakan bobot masalah.

Mungkin anda sendiri seringkali menjumpai atau bahkan mengalami percakapan dengan seseorang yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa permasalahan yang sedang dihadapi begitu berat. Atau seringlah didapati bahwa media-media seperti koran atau majalah menggambarkan bahwa persoalan atau masalah sosial, politik, atau ekonomi negara ini begitu berat. Memang ukuran unitnya tidak jelas. Tidak seperti bobot massa seseorang yang dapat dinyatakan dalam unit kg atau g, persoalan tidak mempunyai unit ukuran.
Unit ukuran dalam sebuah persoalan sangatlah subjektif dan personal. Hal ini disebabkan oleh adanya campur tangan perasaan manusia dalam proses penghitungan dan pemberian kesimpulan atas bobot masalah atau problem yang terjadi. Dan sejarah menyatakan bahwa tidak ada yang dapat menandingi labilnya perasaan manusia. Seolah-olah ombak yang tidak berhenti untuk mengombang-ambingkan perahu pikiran.
Oleh karenanya pernyataan akan ukuran masalah setiap manusia akan berbeda-beda. Yang satu akan berkata bahwa persoalannya lebih berat dibandingkan yang lain, sedangkan yang lain akan berpendapat tidak demikian. Semuanya sah-sah saja sebetulnya, karena setiap dari manusia juga memiliki kekuatan yang berbeda. Bukankah itu bentuk keragaman yang hakiki?
Namun keragaman itu sendiri yang menyebabkan sebuah fenomena baru, yaitu pergeseran intesitas dari ukuran sebuah masalah. Sebuah gambaran untuk menjelaskan hal ini, dahulu kesopanan dan kesusilaan mendapatkan perhatian yang besar dalam kehidupan masyarakat. Tingkah laku tata krama serta pergaulan terjaga ketat dan dibatasi oleh norma-norma. Pelanggaran atas norma-norma tersebut dianggap sebagai pelanggaran berat. Namun sekarang, ukuran tersebut seakan-akan telah berubah. Intensitas akan ukuran tersebut telah bergeser. Pelanggaran asusila dan ketidaksopanan tidak lagi menjadi persoalan yang berat. Kadang kala hal itu menjadi hal yang lumrah atau biasa.
Dahulu berita tentang kejahatan-kejahatan asusila ataupun kejahatan dengan senjata api tidaklah sebanyak sekarang ini. Mengapa? Karena dahulu kejahatan asusila dan penggunaan senjata api merupakan persoalan dan pelanggaran berat. Saat ini kejahatan asusila tidak diekspos secara besar-besaran, bahkan hanya dianggap masalah kecil. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana banyaknya kejahatan tersebut merebak tanpa ditangani dengan penanganan yang tepat.
Tetapi hal yang sebaliknya justru terjadi. Dahulu korupsi dan penyogokan bukanlah hal besar. Seakan-akan kita diam dan membisu, mengerti, dan melakukan perbuatan itu di kantor-kantor kelurahan atau ketika melakukan pelanggaran dan tertangkap oleh polisi lalu lintas. pelanggaran. Namun sekarang, korupsi dan penyogokan bukan lagi persoalan kecil. Setiap dari mereka yang melakukan korupsi, baik besar atau kecil, dapat dikenai tindak pidana. Korupsi sudah menjadi masalah yang berat, persoalan dalam skala nasional.
Seperti halnya korupsi, standar ukuran masalah kemiskinan juga berubah. Dahulu kemiskinan adalah masalah sosial yang pelik yang dihadapi oleh pemerintah dan rakyatnya. Kita tidak banyak menjumpai daerah-daerah miskin atau fakir miskin lalu lalang dan di jalan-jalan ibukota. Hal ini karena pemerintah yang dahulu menempatkan kemiskinan di dalam ukuran yang besar atau harus diselesaikan secepatnya. Namun sekarang, kemiskinan bukanlah masalah terbesar atau terberat. Kemiskinan bagaikan diabaikan dan tidak lagi dipandang sebagai masalah yang berat.

Perubahan dan pergeseran masalah dari ukuran besar menjadi kecil, dan sebaliknya, adalah akibat dari dua hal.
Yang pertama adalah perubahan zaman. Kita tidak dapat mengelak hal ini. Zaman berubah, teknologi berkembang, dan dunia yang semakin datar adalah alasan yang paling masuk akal. Perkembangan zaman juga turut andil dalam perkembangan pola pikir dan kecerdasan manusia. Mungkin, seiring dengan berkembangnya kecerdasan manusia, manusia dapat lebih mengkategorikan masalah-masalah ke dalam ukuran-ukuran berat yang lebih tepat.
Seiring berubahnya zaman, berubah pula kebutuhan atau needs manusia. Jika dahulu ada tiga kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang, dan papan. Maka seiring dengan berubahnya zaman dan pola pikir, berubah pula kebutuhan manusia. Pada zaman ini kebutuhan primer manusia tidak lagi pangan, sandang, dan papan saja. Barang-barang mewah dan kebutuhan sekunder juga sudah masuk ke dalam ranah kebutuhan hidup manusia. Dimana ada kebutuhan, disanalah timbul masalah. Dan ukuran masalah akan berubah sesuai dengan ukuran kebutuhan.
Yang ketiga adalah keinginan masyarakat itu sendiri. Manusia adalah mahluk sosial, bahkan manusia zaman ini cenderung lebih sosial dibandingkan pada zaman sebelumnya. Manusia zaman ini cenderung untuk mengikuti perilaku sesamanya atau peer groupnya. Oleh karena itu apa yang dinyatakan sebagai sebuah masalah besar bagi sesamanya juga akan dianggap sebagai masalah besar pula oleh orang itu. Ikut-ikutan, adalah istilah yang tepat.
Dahulu besar sekarang kecil. Dahulu kecil sekarang menjadi besar. Itulah gambaran persoalan hidup manusia. Bahkan kadang manusia senang untuk membesarkan yang kecil-kecil dan mengecilkan yang besar-besar. Itulah keunikannya.
Tapi, akankah lebih baik kalau yang kecil saat ini tidak dianggap kecil, dan yang besar tidak dilebih-lebihkan?